Sebagai salah satu destinasi wisata yang paling unik di Jepang, Pulau Hashima telah menjadi fenomena internet. Namun, bagaimana Pulau Hashima terkenal itu? Mari kita simak keaslian film dan kehidupan nyata dari pulau ini.
Sejarah yang Menarik
Pulau Hashima, yang dikenal dengan nama “Gunkanjima” (Pulau Kapal Perang) di Jepang, memiliki sejarah yang menarik. Pada awal abad ke-20, pulau ini menjadi pusat industri pengolahan nikel dan tembaga. Banyak warga Jepang yang pindah ke pulau ini untuk bekerja di perusahaan-perusahaan tersebut.
Namun, pada tahun 1970-an, produksi nikel dan tembaga di pulau ini berakhir akibat kebangkrutan industri. Walaupun banyak bangunan-bangunan yang rusak dan tidak dapat digunakan lagi, Pulau Hashima masih tetap menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi.
Kejadian Film “Hashima: Island of Lost Children”
Pulau Hashima menjadi salah satu lokasi syuting film “Hashima: Island of Lost Children” pada tahun 2011. Film ini diproduksi oleh produser asal Korea Selatan dan menggambarkan kehidupan anak-anak di pulau ini.
Di film tersebut, terlihat banyak adegan yang menunjukkan kehidupan sehari-hari warga Jepang yang pindah ke pulau ini untuk bekerja. Akan tetapi, ada juga beberapa adegan yang menggambarkan kebahagiaan dan kesenangan anak-anak di pulau ini.
Kehidupan Nyata di Pulau Hashima
Di tahun-tahun terakhir, Pulau Hashima menjadi tujuan wisata yang populer. Beberapa pengunjung telah mengalami kesenangan dan kebahagiaan saat berinteraksi dengan warga lokal.
- Banyak pengunjung yang merasa seperti mereka sedang berada di “seri anime” ketika melihat bangunan-bangunan tua dan abu-abu yang masih menyerap sinar matahari.
- Beberapa warga lokal bahkan membiarkan pengunjung untuk menginap di akomodasi mereka, sehingga pengunjung dapat merasakan kehidupan sehari-hari di pulau ini.
Meskipun Pulau Hashima masih memiliki banyak masalah seperti keterbatasan akses dan perawatan bangunan-bangunan yang rusak, destinasi wisata ini tetap menarik bagi pengunjung. Akan tetapi, penting untuk mengingat bahwa kehidupan di pulau ini sangat terbatas.
Apalagi, seperti ketika kita berada di dalam sebuah “rumah yang terbuat dari karton”, kita harus mempertimbangkan bagaimana perasaan warga lokal dan lingkungan sekitar.