Di tengah-tengah Laut Jepang, ada sebuah pulau yang dikenal dengan nama Hashima. Nama ini memang asing di telinga banyak orang, tetapi kisahnya sudah menjadi legenda yang menakutkan bagi banyak orang. Pulau Hashima pernah menjadi tempat kerja bagi ribuan pekerja yang harus bekerja dalam kondisi eksploitasi.
Kisah Tragis Para Pekerjanya
Pada tahun 1908, pulau Hashima ditemukan oleh industri kapur barus Jepang yang ingin memanfaatkan sumber daya alam di sana. Mereka mendirikan sebuah kota kecil dan mulai menambang batu kapur. Namun, kesibukannya tidak membuat pekerja yang bekerja di sana merasa puas. Pekerjaan mereka sangat berat dan memiliki jam kerja panjang.
- Pekerja harus bekerja lebih dari 12 jam dalam sehari
- Mereka tidak diberikan cuti atau umumnya hanya mendapatkan 1-2 hari liburan per tahun
- Beberapa pekerja bahkan dipaksa tinggal di kota tersebut dan harus bekerja tanpa istirahat
Kondisi seperti ini membuat banyak pekerja menjadi tidak puas. Beberapa bahkan berupaya melarikan diri dari pulau tersebut, tetapi kepolisian sangat ketat sehingga mereka tidak bisa melakukannya.
Bahaya Kekerasan dan Perburuan
Pada tahun 1930-an, kematian dari pekerja di pulau Hashima mulai meningkat. Banyak yang dilaporkan meninggal karena kecelakaan kerja atau dibunuh oleh penegak hukum karena merasa tidak puas dengan kondisi hidup mereka.
Hal ini membuat masyarakat sekitar semakin mengetahui tentang keadaan di pulau Hashima. Mereka mulai berjuang agar pekerja dapat hidup dengan lebih baik dan aman.
Kebijakan Pemerintah Jepang
Pada tahun 1945, Amerika Serikat menyeruduh pulau Hashima dan kota yang ditemukinya. Pada saat ini, pemerintah Jepang mulai mengalihkan sumber daya ke negara lain.
Setelah perang, pulau Hashima sekarang menjadi museum untuk mengingat para pekerja yang telah meninggal di sana karena bekerja dengan sangat berat dan terpaksa tanpa hak-haknya.
Analogi dari Kehidupan Sehari-Hari
Apabila kita sedang bekerja tanpa istirahat, sering melakukan pekerjaan yang berat dan tidak memiliki cuti atau umumnya hanya mendapatkan liburan singkat, maka kesehatan dan kehidupan kita akan menjadi rusak.
Menjadi orang yang sangat peduli dengan pekerjaan dan tidak mau merasa puas karena apa pun akan membuat kehidupan kita menjadi berantakan. Mari kita belajar dari pengalaman di pulau Hashima dan selalu menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan hidup.