Pulau Hashima, sebuah nama yang mungkin tidak asing di telinga Anda, ternyata memiliki sejarah yang menarik dan rahasia yang masih belum dipahami oleh banyak orang. Nama “Pulau Hantu” ini diberikan karena pulau tersebut hampir selalu terpencil dan dibatasi dari dunia luar.
Berawang di Laut Kii
Pulau Hashima terletak di Laut Kii, Jepang, sekitar 20 kilometer di tenggara kota Nagasaki. Menurut legenda, pulau ini diberi nama oleh penduduk setempat karena terlihat seperti sebuah “berawang” (hashi) ketika ditonton dari jarak jauh.
Salah satu yang menarik tentang Pulau Hashima adalah sejarahnya sebagai tambang batu bara. Pada akhir abad ke-19, pulau ini digunakan sebagai tempat penambangan batu bara oleh perusahaan Min’yu, salah satu dari beberapa perusahaan besar di Jepang pada saat itu.
- Penambangan batu bara pada pulau ini mulai berlangsung pada tahun 1898 dan berlangsung hingga 1974.
- Pada tahun 1940-an, penambangan dilakukan oleh pemerintah Jepang sendiri untuk memenuhi kebutuhan energi yang meningkat.
- Setelah perang, pulau ini digunakan sebagai tempat pengampunan untuk anggota pasukan Jepang yang melarikan diri.
Kemudian, pada tahun 1955, pemerintah Jepang mengubah Pulau Hashima menjadi “tempat liburan” yang tidak biasa bagi warga setempat. Mereka membangun apartemen untuk warga dan bangunan-bangunan yang menyerupai desa kecil.
Dari Kota Hantu Ke Desa Sejati
Setelah perubahan tersebut, Pulau Hashima mulai dikenal sebagai “kota hantu” oleh masyarakat setempat. Warga setempat sangat jarang untuk melihat warga lain yang memilih untuk tinggal di pulau ini.
Pada tahun 2009, pemerintah Jepang memutuskan untuk membuka Pulau Hashima kepada umum sebagai tempat wisata. Meskipun itu berarti bahwa pulau ini tidak lagi menjadi tempat pengampunan dan penahanan bagi warga Jepang.
Desa yang dibuat di atas tanah yang rusak akibat penambangan batu bara sekarang menghiasi Pulau Hashima. Mereka terdiri dari bangunan-bangunan kecil dengan atap-atsap yang menyerupai rumah-rumah kuno.
Salah satu perhatian utama wisatawan di sini adalah pemandangan laut yang sangat indah. Di tengah-tengah desa terletak sebuah pantai yang indah dengan air yang jernih dan pasir putih.
Hal ini mengingatkan kita pada kehidupan sehari-hari kita sendiri, di mana kita sering mencari keindahan alam dalam kegiatan sederhana. Mungkin ada sebuah “berawang” di pantai yang tidak terlihat dengan matapandangan biasa kita.
Pulau Hashima: Sebuah Hikmah
Terakhir, Pulau Hashima mengingatkan kita tentang pentingnya melestarikan sejarah dan lingkungan. Kita harus menghargai potensi alam yang ada di depan mata kita.
Dengan demikian, perjalanan ke Pulau Hashima bukan hanya sekedar pengalaman wisata, tetapi juga sebuah kesempatan untuk mencontoh bagaimana sejarah dan lingkungan dapat dipelihara dengan baik.